Desa Dalapuli

  TRENDING
ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DESA DALAPULI TAHUN ANGGARAN 2021
Penyerahan Bantuan Langsung Tunai (BLT) Oleh Wakil Bupati Bolaang Mongondow Utara di Desa Dalapuli
Hukum Memakai Hand Sanitizer atau Cairan Antiseptik Tangan Untuk Sholat
INFOGRAFIS | Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa Dalapuli Tahun Anggaran 2020
Surat Edaran Menteri Agama RI Tentang Panduan Ibadah Ramadhan dan Idul Fitri 1441 H di Tengah Pandemi Wabah COVID-19
Fatwa MUI Tentang Penyelenggaraan Ibadah Dalam Situasi Terjadi Wabah COVID-19
Cegah COVID-19, Sangadi Dalapuli Kerjasama Dengan PELAKOR (Pemuda Lawan Korona)
5 April 2020 | Sebanyak 164 Orang Sembuh dan 2.273 Positif COVID-19 di Indonesia
Ole Gunnar Solskjaer Mantap Permanenkan Odion Ighalo?
Poster Tentang Cuci Tangan Pakai Sabun dan Penanganan Virus Corona (COVID-19)
Tugas “Relawan Desa Lawan Virus Corona (COVID-19)”
Surat Edaran Pemerintah Desa Dalapuli Tentang Penanganan dan Pencegahan Virus Corona (COVID-19)
Jaga Diri dan Keluarga Anda Dari Virus Corona Dengan “GERMAS”
Upaya Pencegahan Virus Corona (COVID-19) Di Desa Dalapuli
Fakta penting tentang cuci tangan pakai sabun untuk melindungi anda dari Coronavirus (COVID-19)
Pedoman | Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease (COVID-19)
Desa Dalapuli Melayani Permohonan Sidang Isbat Nikah
Peningkatan Kapasitas Aparatur Pemerintah Desa dan Lembaga Desa Dalapuli
PENYELENGGARAAN DIKILI DI DESA DALAPULI
GEMAR CAHTING | Gerakan Bersama Terpadu Cegah Stunting
Dalapuli, Desa Sehat di Bolmut
DALAPULI : SANG JUARA LOMBA PHBS TINGKAT NASIONAL
Tanda Coblos Suara Sah & Tidak Sah Pada Surat Suara Pemilu Serentak Tahun 2019
Peraturan Desa Dalapuli Nomor 4 Tahun 2018 Tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa Tahun Anggaran 2019
Warga Desa Dalapuli Kerja Bakti di Area Pemakaman Desa.
VIDEO SIMULASI SERTA IMBAUAN SANGADI DESA DALAPULI TENTANG PEMILU SERENTAK 2019
Download Permendagri Nomor 47 Tahun 2016 tentang Administrasi Desa
Download Aplikasi “SIA BUMDes BPKP” Berserta Panduannya.
TIM VERIFIKASI PENILAIAN LOMBA PHBS TINGKAT NASIONAL KUNJUNGI DESA DALAPULI
Download Panduan Pemungutan, Penghitungan, Rekapitulasi Suara KPPS & PPK, Serta Pengawasanya oleh PTPS
Next
Prev

Hukum Memakai Hand Sanitizer atau Cairan Antiseptik Tangan Untuk Sholat

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on pinterest
Pinterest

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Awal 2020 dunia dihebohkan dengan virus corona. Selain pemakaian masker pelindung mulut dan hidung, masyarakat juga diimbau untuk mengenakan hand sanitizer atau cairan antiseptik tangan. Masalahnya, cairan antiseptik tersebut terbuat dari alkohol. Bagaimana jika orang cuci tangan dengan hand sanitizer lalu melakukan shalat? Mohon penjelasannya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Miftah/Jakarta)

Jawaban Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Kesucian di pakaian, badan, dan tempat shalat merupakan syarat sah ibadah shalat. Sementara alkohol (bahan baku hand sanitizer atau cairan antiseptik tangan) oleh sebagian orang diyakini sebagai zat memabukkan yang diidentikkan dengan najis.  Adapun status zat alkohol sendiri masih menjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama. Sebagian ulama menyatakan status najis bagi alkohol, meski pemakaiannya pada parfum dan obat sebatas hajat tetap diperbolehkan (ma‘fu). Sementara sebagian ulama lain menyatakan kesucian zat alkohol.

ومنها المائعات النجسة التي تضاف إلى الأدوية والروائح العطرية لإصلاحها فإنه يعفى عن القدر الذي به الإصلاح قياسا على الأنفحة المصلحة للجبن

Artinya, “Salah satu (yang dimaafkan) adalah cairan-cairan najis yang dicampurkan pada obat dan aroma harum parfum untuk memberi efek maslahat padanya.

Hal ini terbilang dimaaf sebatas minimal memberi efek maslahat berdasarkan qiyas atas aroma yang memberi efek maslahat pada keju,” (Abdurrahman Al-Jaziri, Al-Fiqhu ala Madzahibil Arba‘ah, juz I, halaman 15). Adapun ulama yang menyatakan kesucian alkohol antara lain adalah Syekh Wahbah Az-Zuhayli.

Menurutnya, alkohol baik murni maupun campuran itu suci. Sedangkan kata “rijsun” di dalam Al-Qur’an tidak dapat dimaknai sebagai kotoran dalam arti najis, tetapi kotor sebagai perbuatan dosa.

مادة الكحول غير نجسة شرعاً، بناء على ماسبق تقريره من أن الأصل في الأشياء الطهارة، سواء كان الكحول صرفاً أم مخففاً بالماء ترجيحاً للقول بأن نجاسة الخمر وسائر المسكرات معنوية غير حسية، لاعتبارها رجساً من عمل الشيطان

Artinya, “Zat alkohol tidak najis menurut syara’ dengan dasar (kaidah) yang telah lalu, yaitu segala sesuatu asalnya adalah suci baik ia adalah alkohol murni maupun alkohol yang telah dikurangi kandungannya dengan campuran air dengan mengunggulkan pendapat yang mengatakan bahwa najis khamr dan semua zat yang memabukkan bersifat maknawi, bukan harfiah, dengan pertimbangan bahwa itu adalah kotor sebagai perbuatan setan,” (Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, [Beirut, Darul Fikr: tanpa tahun], juz VII, halaman 210).

Menurut Syekh Wahbah, pemakaian alkohol untuk kepentingan medis tidak bermasalah secara syar’i misalnya untuk mensterilkan kulit, luka, obat, dan membunuh bakteri; atau pemakaian parfum/kolonye dan krim yang mengandung alkohol.

Pandangan Syekh Wahbah juga sejalan dengan pembahasan yang diangkat oleh alm KHM Syafi’i Hadzami (Rais Syuriyah PBNU 1994-1999 M) dalam tanya jawab masalah agama melalui siaran Radio Cendrawasih pada era 1970-1980-an dengan mengutip (Yas’alûnaka, jilid II: 30) karya Doktor Ahmad As-Syarbashi sebagai berikut:

كانت لجنة الفتوى بالأزهر قد سئلت مثل هذا السؤال فأجابت بأن الكحول السبرتو على ما قاله غير واحد من العلماء ليس بنجس وعلى هذا فالأشياء التى يضاف إليها الكحول لا تنجس به وهذا هو ما نختاره لقوة دليله ولدفع الحرج اللازم للقول بنجاسته

Artinya, “Adalah Lajnah Fatwa di Al-Azhar pernah ditanya seperti pertanyaan ini, maka dijawabnya bahwa alkohol (spiritus) menurut apa yang dikatakan oleh banyak ulama, bukanlah najis, dan atas dasar ini, maka segala sesuatu yang dicampuri alkohol, tidak terhukum najis. Dan inilah apa yang kami pilih karena kuat dalilnya, dan untuk menolak kepicikan yang lazim karena mengatakan dengan najisnya,” (Lihat KHM Syafi‘i Hadzami, Taudhihul Adillah, [Kudus, Menara Kudus: 1986], jilid VII, halaman 75-77).
Dari pelbagai pandangan di atas, shalat dengan pemakaian hand sanitizer tanpa mencuci tangan terlebih dahulu tetap sah karena pemakaiannya sebatas hajat dimaafkan meski berstatus najis (bagi sebagian ulama), terlebih lagi menurut ulama yang menyatakan kesucian alkohol. Terlepas dari itu semua, penyalahgunaan zat alkohol (untuk diminum biasanya) yang hari ini diidentikkan dengan khamr dilarang oleh agama dan mengandung dosa besar. Meski demikian, alkohol mengandung manfaat bagi manusia termasuk untuk membasmi kuman dan lain sebagainya seperti keterangan Syekh Wahbah Az-Zuhayli sebelumnya.

قُلْ فِيهِمَآ إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَآ أَكْبَرُ مِن نَّفْعِهِمَا

Artinya, “Katakanlah, Di dalam keduanya (khamr dan judi) terdapat dosa besar dan manfaat bagi manusia. Tetapi dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya.” (Surat Al-Baqarah ayat 219).

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,

Wassalamu ’alaikum wr. wb.

 

 

 

 

Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/117881/hukum-memakai-hand-sanitizer-atau-cairan-antiseptik-tangan-untuk-shalat

Conference

Artikel Populer

Close Menu